Model-Model Integrasi

Banyak model integrasi sains dan agama yang diajukan para tokoh agama. Model tersebut diklasifikasikan berdasarkan jumlah konsep dasar sebagai komponen utama model itu. Kajian mengenai hubungan sains dan agama telah dikemukakan oleh para ahli sejak lama, salah satunya Ian G.Barbour. Kajian Barbour “ When Science Meets Religion: Enemies, Strangers, or Partuers? “, memetakan hubungan sains dan agama dalam empat tipologi, yakni konflik (conflict) yang menyatakan sains dan agama saling bertentangan, independensi (independence) yakni antara sains dan agama memiliki tugas masing-masing, dialog (dialogue) meyatakan sains dan agama secara logis memang berbeda, tapi dalam dunia nyata keduanya dapat saling berpengaruh, dan integrasi (integration) yang menganggap ilmu agama dapat menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia (Fanani, 2015: 76).

Barbour menyatakan hubungan sains dan agama dalam kasus tertentu saling bertentangan bahkan bermusuhan. Independensi terjadi ketika sains dan agama berjalan sendirisendiri berdasarkan bidang cara dan tujuan masing-masing tanpa peduli satu sama lain. Hubungan sains dan agama bersifat saling terbuka dan saling menghormati bisa disebut dialog. Sedangkan hubungan sains dan agama dikatakan integrasi ketika saling bertumpu pada keyakinan bahwa pada dasarnya kawasan telaah, rancangan penghampiran, serta tujuan keduanya adalah satu atau sama (Fanani, 2015: 77).

Pandangan yang mirip dengan Barbour, yaitu John F. Haught (1995), telah membagi pendekatan sains dan agama menjadi :

1. Konflik, akibat pengaburan batas-batas sains dan agama yang keduanya dianggap bersaing dalam menjawab pertanyaan yang sama sehingga memungkinkan seseorang memilih menjawab dari salah satunya.

2. Kontras, hal ini merupakan garis pemisah yang dapat ditarik antara sains dan agama.

3. Kontak, langkah ini didorong dengan psikologis yang kuat bahwa bagaimanapun bidang ilmu yang tidak sama perlu dibuat koheren.

4. Konfirmasi menjadi langkah selanjutnya ketika implikasi-teologis teori ilmiah ditarik ke wilayah teologis, bukan sebagai pembuktian keagamaan, tetapi hanya sekadar menafsirkan temuan ilmiah pada kerangka makna keagamaan demi memahami teologi dengan lebih baik. Dasarnya yakni yakin bahwa yang dikatakan sains tentang alam memiliki relevansi dengan pemahaman keagamaan yang dimiliki manusia tanpa mengubah batang tubuh sains dan tidak ada data empiris yang tersentuh (Bagir et al, 2005: 22).

Model integrasi yang dikembangkan oleh Prof Amin Abdullah mempertemukan tiga peradaban, yaitu hadarah alnaas (budaya teks), hadarah al-‘ilm (budaya ilmu), serta hadarah al-falsafah (budaya filsafat). Pendekatan tersebut memadukan wahyu Tuhan dengan temuan pikiran manusia yang tidak akan mengecilkan peran Tuhan ataupun manusia sehingga terjalin rasa toleransi pada dirinya sendiri, masyarakat maupun lingkungan. Integrasi agama menurut Zaenal Abidin Bagir (2005: 94- 98) diklasifikasikan melalui penghitungan jumlah konsep dasar yang menjadi komponen utama dalam model tersebut. Model integrasi tersebut dibagi menjadi beberapa model, diantaranya:

1. Model Monadik

Komponen utama dalam model ini hanya satu. Model ini sangat terkenal dikalangan fundamentalis, religius atau sekuler. Kalangan religius menyatakan bahwa agama merupakan keseluruhan yang mengandung semua cabang dari kebudayaan yang ada. Kalangan sekuler menganggap bahwa agama merupakan salah satu cabang dari kebudayaan. Kalangan fundamentalis religious menganggap agama sebagai satusatunya kebenaran dan sains hanya cabang dari kebudayaan. Sains menurut pandangan Ian G. Barbour memiliki sifat fisik, empiris, observable, etrukur serta eksperimental melahirkan sains yang mendistorsi nilai dan berwatak sekuler materialistik. Sains cenderung mengakibatkan penolakan eksistensi penciptaan beserta tuhan, serta melahirkan budaya duniawi (serba material) (Baharun, 2014: 72). Sementara kalangan sundamentalisme sekuler menyatakan bahwa kebudayaan merupakan ekspresi manusia dalam mewujudkan kehidupan yang berdasarkan pada sains sebagai satu-satunya kebenaran. Penggunaan model monadik menegaskan eksistensi yang lainnya sehingga tidak mungkin terjadi konsistensi antara agama dan sains. Tetapi model monadik sulit digunakan sebagai landasan integrasi agama dan sains di lembaga pendidikan dari jenjang TK sampai perguruan tinggi.

2. Model Diadik

Model ini memiliki dua konsep dasar sebagai komponen utama. Model diadik muncul sebagai solusi dari kelemahan model monadik. Model diadik memiliki beberapa jenis. Model diadik kompartementer atau relasi independensi yang mengatakan bahwa sains membicarakan fakta alamiah dan agama membicarakan nilai illahi, jadi keduanya adalah kebenaran yang setara.

Langdon Gilkey seperti yang diungkap Barbour (2002: 67) dalam bukunya menyatakan antara sains dan agama memiliki perbedaan yang mendasar sebagai berikut:

a. Sains menjelaskan data objektif, umum, dan berulang-ulang. Sedangkan, agama membahas mengenai eksistensi tatanan serta keindahan dunia.

b. Sains melahirkan pertanyaan “bagaimana”, sementara agama memunculkan pertanyaan “mengapa”.

c. Dasar otoritasi sains berupa koherensi logis dan kesesuaian eksperimental, sedangkan asal agama berupa wahyu dari Tuhan.

d. Sains bersifat prediktif dan kuantitatif, sementara agama cenderung menggunakan bahasa analogis dan simbolis sebab sifat transenden yang melekat pada diri Tuhan.

Jenis kedua model diadik adalah diadik komplementer, model ini menyatakan bahwa sains dan agama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Model diadik dialogis merupakan model yang menyatakan sains dan agama memiliki sebuah kesamaan. Hal ini dikarenakan di dalam Al-Quran dapat ditemukan sejumlah fakta ilmiah. Selain itu para ilmuwan juga menemukan bagian dari otak yang biasa disebut “the god spot” yang merupakan pusat kesadaran religius manusia.

3. Model Triadik

Model triadik ada sebagai koreksi dari model diadik independen. Model triadik memuat tiga unsur karena ada yang menjembatani antara agama dan sains, yaitu filsafat. Model ini diusulkan oleh kaum teosofis yang memiliki semboyan “there is no religion higher than truth”. Kebenaran merupakan kesamaan antara sains, filsafat, dan agama.

4. Model Tetradik

Model diadik dan triadik menurut Ken Wilber tidak mencukupi dalam pemahaman aspek budaya, sehingga perlu penambahan satu aspek atau komplemen budaya. Komplemen baru ini disebut komplementasi postmodernis “satu/banyak” sebagai komplementasi “individual/sosial”. Dengan ada penambahan komplementasi yang terdahulu, maka tercipta realitas budaya yang terbagi menjadi empat kuadran. Dimana satu lingkaran dibelah dengan dua sumbu komplementasi yang saling tegak lurus.

5. Model Pentadik

Model yang terakhir adalah model pentadik memuat lima komponen. Paradigma model pentadik disebut integralisme Islam yang meletakkan klasifikasi kelimuan Islam menjadi empat, diantaranya ilmu-ilmu keagamaan, ilmu-ilmu kebudayaan, ilmu-ilmu terapan dan ilmu-ilmu kelaman sesuai dengan kategori integral nilai, informasi, energi dan materi, yang kesemuanya bersumber dari ilmu Al-Quran (Bagir et al, 2005: 100-105).

Referensi

Abdullah, Amin. 2010. Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bagir, Zainal Abidin, Jarot, Wahyudi, Afnan Anshori. 2005.Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi. Bandung: Mizan Media Utama.

Baharun, Hasan dan Akmal Mundiri. 2014. Metodologi Studi Islam Percikan Pemikiran Tokoh dalam Membumikan Agama. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Barbour, Ian G. 2002. Juru Bicara Tuhan: Antar Sains dan Agama. Bandung: Mizan.

Fanani, Muhyar. 2015. Paradigma Kesatuan Ilmu Pengetahuan. Semarang: Karya Abadi Jaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *